Ketika Toilet Belum Ada

Buang Air Besar Abad Pertengahan
Ketika Toilet Belum Lahir
(1066 – 1485)

Pada abad pertengahan (Medieval), orang Eropa menggunakan Potties (Inggris: pisspot, Indonesiaispot) sebagai tempat menampung kotoran mereka. Setiap rumah memiliki beberapa potties tergantung kebutuhan mereka. Sebangian besar rumah menyimpan potties di setiap kamar. Pada masa itu, mereka memang sudah mengenal kamar mandi, tapi mereka tidak mengenal kamar kecil. Lalu bagaimana cara mereka membuang kotoran yang sudah tertampung didalam potties dikamar mereka?

Pada masa itu, masyarakat Eropa telah mengenal tata letak pembangunan komplek rumah tinggal secara sederhana. Dinding rumah yang satu dengan tetangganya saling menempel dengan tidak menyisakan jaralk sedikitpun. Sedangkan untuk tetangga depan rumah, hanya dibatasi jalan kecil yang diapit dua buah parit yang terdapat tepat didepan rumah mereka. Parit-parit itu pada awalnya hanya dibangun untuk menhindari banjir sehingga pada musim panas atau musim kering parit-parit tersebut pun tidak berair.

Karena itu, cara mereka membuang muatan kotoran mereka dari potties tersebut adalah dengan membuangnya kedepan rumah dengan begitu saja. Termasuk mereka yang memiliki rumah bertingkat. Mereka membuka jendela atas dan membuang kotoran mereka kedepan rumah dengan berteriak “Gardez l’eau” [baca: gar-dey lou] dengan suara keras. Kata tersebut adalah bahasa Prancis yang berarti “Awas ada air”. Dan dari “Gardez l’eau” inilah asal mula kata bahasa Inggris “Loo” yang juga berarti WC atau toilet.

Bagaimana dengan orang-orang kaya atau keluarga kerajaan bahkan raja itu sendiri? Apakah mereka melakukan hal yang sama?

Orang-orang tingkat atas membuat sebuah tonjolan yang mencuat dari didinding tembok salah satu ruang dirumah mereka atau bahkan didalam kamar mereka. Tonjolan itu ditutup oleh kayu berbentuk lonjong dengan lubang ditengahnya untuk dijadikan tempat duduk atau berjongkok. Tapi, dibawah itu sama sekali tidak ada sistem saluran atau apapun juga yang mengalirkan kotoran mereka menuju sungai atau suatu tempat yang jauh dari rumah atau istana mereka. Kotoran mereka jatuh begitu saja, terjun bebas kebawah, langsung keatas tanah. Kadang mereka menggunakan sebuah kuali yang berisi air dibawah kamar mereka yang menampung kotoran mereka. Semacam potties juga, hanya potties ini terletak dibawah lantai, sehingga mereka tidak bisa melihat atau mencium bau kotoran mereka sendiri. Karena kaya dan berkuasa mereka menggaji beberapa orang untuk membersihkan dan menambahkan air baru pada kuali tersebut. Mereka disebut dengan “Gongfermors”. Entah apakah ada perkerjaan yang lebih kotor dari pekerjaan para “Gongfermors”. Tapi, pekerjaan kotor belum tentu pekerjaan hina. Menurutku jauh lebih terhormat menjadi “Gongfermors” dari pada menjadi koruptor.

Tahukah anda bahwa tahun 1858 adalah tahun terbau sepanjang sejarah london. Dimana saat itu 100 masyarakat london berbagi 1 “loo”. Sesuatu didalam loo tersebut dibuang ke sungai Themes beserta kotoran lainnya. Dari mulai sampah, bangkai binatang, mayat-mayat budak belian sampai kotoran manusia. Dan sungai ini pun dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, mencuci bahkan memasak. Tak ayal, 10 ribu orang meninggal karena penyakit kolera. Tahun tersebut tercatat didalam sejarah sebagai “The Year Of The Great Stink”.

(dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: