Skull and Bones

Mari kita lihat dari dekat sebuah organisasi terkuat Illuminati di Amerika Serikat, ordo the SKULL & BONES.

Sedikit orang tau, bahwa para penguasa Paman Sam, adalah orang-orang aktif dalam perkumpulan rahasia. Diantaranya dari klan dengan lambang ”bajak laut’.

Suatu kali pada masa kompanye pemilu presiden AS 2004, pada 9 Februari, di program NBC yang bertajuk “Meet the Press”, George W. Bush dan John F. Kerry mendadak ditanya moderatornya, Tim Russert, tentang keanggotaan mereka di Skull and Bones . “It’s so secret we can’t talk about it,” jawab presiden Bush singkat. Sementara senator dari Massachusets ini, John Kerry, menjawab, “I wish there were something secret I could manifest…” (DFP, 11/4/2004/The Secret Society That Unites John Kerry and President Bush ).

George Bush Jr. A Skull & Bones Anti-Catholic Freemason
Surrounded by Apron Wearing Freemasons in Texas (2000 A.D.)

Bush dan John Kerry hanya dua dari sekian banyak para Bones, sebutan akrab buat anggota pria perkumpulan rahasia ini selain Knights of Eulogia dan Boodle Boys, yang telah merambah panggung politik dan segmen strategis masyarakat Amerika lainnya.

Ayah Bush, mantan presiden George Herbert W. Bush, juga anggota paling dihormati di perkumpulan rahasia ini. Mantan presiden William Howard Taft (presiden AS Ke-27, 1909-1913) juga termasuk anggota kelompok “bajak laut” ini.

Anthoni C. Sutton (mantan profesor ekonomi di Universitas Negeri California dan dipecat sebagai reseach fellow dari Lembaga Hoover, Universitas Stanford) dalam bukunya, America’s Secret Establisment – yang diyakini sebagai buku pertama yang membongkar agenda klan hitam ini, menyebutkan bahwa segmen strategis masyarakat Amerika yang telah ditembus ordo “pirate” ini adalah Gedung Putih (Badan Eksekutif), DPR/Kongres, Partai Demokrat dan Republik, Mahkamah Agung, yayasan-yayasan sosial dan amal, pusat-pusat pemikiran, badan-badan perumus kebijakan, lembaga-lembaga dan sistem pendidikan, media massa, penerbitan, perbankan (Federal Reserve System), pusat-pusat bisnis (industri dan perdagangan), dan bahkan berbagai gereja (Sutton, 2002: p. 25).
Itulah sepak terjang klan ‘The Order of Skull and Bones’ alias klan “bajak laut” yang kini menguasai Amerika.

Sedikit orang tahu, ternyata AS memang sebuah negara yang sejak dulunya dan telah lama dipimpin orang-orang yang dibina dalam sebuah perkumpulan yang lambangnya dikenal umum sebagai bendera “bajak laut” atau “tanda bahaya”. Itulah, The Order of Skull and Bones, sebuah klan hitam “amat” rahasia milik presiden George Bush yang berbasis di Yale University, New Haven, Connecticut.

William Russel Founder “Skull n Bones”Perkumpulan Skull and Bones – yang juga dikenal dengan nama-nama The Order of Death (Ordo Kematian), The Order, The Eulogian Club, dan Lodge 322 – dibentuk oleh jenderal William Huntington Russell bersama Alphonso Taft pada 1832 sekembalinya dari Jerman dan diyakini sebagai “Senior Fraternities” dari beberapa perkumpulan rahasia lain di Universitas Yale, seperti Phi Beta Kappa yang didirikan pada 1780, Scroll and Key (1841), Wolf’s Head (1883), Book and Snake (1903), dll.

Bagi sebagian orang yang sudah biasa memperjuangkan dan meneriakkan nilai-nilai modern atau demokrasi (rasionalitas, keterbukaan, kebebasan, dsb.) yang sepenuhnya didukung dan disubsidi negara adidaya ini mungkin tidak percaya bahwa negara yang diklaim sebagai religius (Kristen Protestan), pemuja rasionalitas, dan konon memiliki konstitusi yang paling modern dan demokratis di dunia ini justru dibelakangi sendiri para penguasa dan elit-elit lainnya.

”Si Bones” dan Konflik Dunia
Pada periode pertama pemerintahan Bush, dilaporkan ada 11 Bones yang menduduki Gedung Putih. Mereka adalah; Evan Griffith Galbraith, William H. Donaldson, George Herbert Walker III, Jack Edwin McGregor, Victor Ashe, Roy Leslie Austin, Robert McCallum, Jr., Rex Cowdry, Edward E. McNally, David Batshaw Wiseman, dan James Emanuel Boasberg.

Sementara, para anggota Kongres sekarang yang berasal dari dark klan ini adalah Thomas W. L. Ashley, Jonathan Brewster Bingham, David, Frank B. Brandegee, James Buckley, Prescott Bush, John Chaffee, LeBaron Bradford Colt, John Sherman Cooper, Chauncey Depew, William Maxwell Evarts, Orris S. Ferry, John Forbes Kerry, John Heinz, Thurston Ballard Morton dan Robert A. Taft I.

Ada ribuan kaum Bones lain, baik yang teridentifikasi ataupun yang tidak, yang telah menduduki dan mengontrol AS yang selama ini dipuja-puja kaum intelektual kita. Hakim tertinggi AS periode 1985-1981, Potter Stewart, juga seorang Bones; pendiri FedEx, Frederick W. Smith; pendiri majalah Time Henry Luce; para penulis seperti Archibald MacLeish, John Hersey, William F. Buckley Jr. dan anaknya, Christopher Buckley.

Skull and Bones yang memiliki asal-usulnya ke sebuah ordo yang pernah menghebohkan Eropa tiga abad yang lalu tentu hanya salah satu bab dari secret societies yang telah lama diketahui menguasai negeri Indian ini.

Keanggotaan Skull and Bones, seperti yang dilaporkan sebuah majalah alumni Universitas Yale, Old Yale (September-October 2004), dipilih sekali setahun hanya 15 orang dengan salah satu kriteria pentingnya adalah pernah melakukan kejahatan.

Nah, bagaimana pula dengan beberapa perkumpulan lain baik yang terdapat di Yale maupun di berbagai universitas Amerika lainnya? Bila salah satu nama (Ordo Kematian) dan lambang klan ini saja menyeramkan bisa dibayangkan – tanpa perlu melakukan investigasi mendalam ke dalam ruang pertemuannya tersebut – bagaimana ritus dan seremoninya atau apa saja aksi, misi, operasi dan agendanya, tentu jauh lebih mengerikan.

Satu hal yang mengagetkan adalah bahwa calon anggota (initiate) Skull and Bones, sebagaimana yang dibocorkan salah seorang anggotanya yang hengkang kepada seorang peneliti wanita, Alexandra Robbins, yang didokumentasikan ke dalam bukunya Secrets of the Tomb (2003), setidaknya harus menggali kuburan dan mengambil tengkorak dan beberapa kerangka salah satu keluarganya dan disajikan sebagai kado buat persaudaraan klan ini (Wikipedia, 2005). Karena itulah, nama gedung pertemuannya ini saja, yang tidak berjendela, disebut sebagai “Tomb” (Kuburan, Pusara).

Hebatnya, kaum Bones juga menyebut diri mereka sebagai “Knights” (Ksatria) dan menyebut orang lain sebagai “Barbarians” (Kaum Biadab). Tentu, masih segar di ingatan kita kata-kata yang muncul dari mulut Bush sejak ia mendeklarasikan “War against Terrorism.” Bahkan, kata “crusade” yang pernah dilontarkannya memperkuat teori bahwa ordo ini bagian langsung dari perkumpulan rahasia Jerman, Illuminati Bavaria, yang menjadi struktur penting dalam Freemasonry, sebuah perkumpulan rahasia terbesar dunia yang bermetamorfosa dari Knights Templars (pasukan elit pada masa Perang Salib).
Dalam pada itu, relevansi perkumpulan “bajak laut” presiden Bush ini dalam konteks politik global yang terus memanas sekarang ini adalah memahamai perannya dalam konflik yang diciptakan. Kebijakannya berangkat dari filsafat dialektik-Hegelian yang menyatakan bahwa konflik akan menciptakan sejarah. Karena itu, menurut Prof. Sutton, perkumpulan “bajak laut” ini gemar menciptakan perang dan revolusi. (Sutton, 2002: p. 117). Misalnya, Perang Opium di China, Perang Dunia Kedua, Peristiwa G30/SPKI, Vietnam Utara-Selatan, Iraq-Iran, Perang Teluk 1991 (Iraq-Kuwait), dan konflik sektarian antara Sunni-Syiah di Iraq saat ini.

Odet Yinon, wartawan Israel yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Departemen Luar Negeri negara Yahudi ini, dalam tulisannya “A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties” (Kivunim/Directions, No. 14, February 1982), menjelaskan bahwa ada dua premis pokok yang bisa diciptakan dengan pola Hegelian yang akan menjadi agenda negara Israel untuk menaklukkan kawasan Timur Tengah.

Pertama, Israel akan menjadi kekuatan imperial regional; dan kedua, posisinya harus mampu mempengaruhi pembagian seluruh kawasan tersebut ke dalam negara-negara kecil dengan membubarkan semua negara-negara Arab yang ada.

Yang dimaksud ‘kecil” di sini terikat pada komposisi ethnik dan sektarian dari setiap negara. Oleh karena itu, harapan Zionis adalah bahwa negara-negara berdasarkan sektarian ini akan menjadi satelit-satelit Israel dan, ironisnya, (juga) akan menjadi sumber legitimasi moralnya. Jadi, teori konspirasi (bertitik tolak dari hukum kausalitas) yang tidak dipercayai beberapa intelektual Muslim kita yang amat potensial sudah seharusnya merevisi pola pikir dan posisinya.

Orang seperti Franklin Delano Roosevelt (presiden AS ke-32, 1933-1935), seorang Mason yang paling berpengaruh, pernah mengungkapkan, “In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was planned that way.” Sosok Republik Amerika (dan barangkali negara-negara Eropa lainnya) yang modern, demokratis dan terbuka sebenarnya hanya ada di tampilan luarnya, perangkat tekhnologi canggih yang diciptakannya, buku, media, dan seterusnya.

(dicopy dari kaskus.us)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: