Salah Siapa

”D’Massiv ALAY!!” teriak seseorang yang menilai musik D’Massiv tidak pantas dinikmati dan megharapkan mereka tidak ada di dalam industri musik tanah air. fenomena ini mulai banyak berkembang di kalangan anak muda yang dengan mudah menghina suatu artis/musisi yang mereka tidak sukai dan membanggakan musisi kesukaan mereka, padahal jika di balik belum tentu mereka bisa membuat lagu dan berani untuk tampil seperti artis/musisi yang mereka hina.

terkadang gue juga kesel melihat band baru yang bermunculan dan mengusung jenis musik yang sama tapi dengan kualitas yang masih “kurang baik”. sebenernya mereka bukanlah pihak yang salah, setiap manusia berhak membuat suatu grup, lagu dan tampil dalam suatu acara, semua orang berhak dan tidak ada yang berhak melarang ( kecuali beberapa pihak yang bisa melarang, seperti aparat keamanan yang tidak memberikan ijin membuat acara atau panitia yang melarang suatu artis/musisi tersebut untuk tampil di acaranya (: ) dan memang tidak ada yang bisa disalahkan dalam kasus ini, konsumen? memang sedikit kecewa dengan selera dengan para konsumen di negeri ini, tapi selera adalah selera, (lagi) tidak bisa digangu-gugat, setiap orang memiliki selera yang berbeda. mungkin jika boleh menyayangkan, adalah pihak label/produser rekaman yang mengorbitkan mereka ke konsumen, tapi merka juga tidak bisa disalahkan begitu saja karena mereka hadir di dunia musik memang sebagai pengorbit atau perantara bagi artis/musisi yang ingin menjual hasil karya mereka ke konsumen luas, dan mereka adalah sebuah industri yang memang memiliki tujuan untuk mencari penghasilan/keuntungan di dunia musik baik bagi mereka sendiri maupun para artis/musisi tersebut. jadi siapakah yang salah atas munculnya fenomena penghinaan terhadap “band-band alay” atau pun munculnya artis/musisi seperti itu? tidak ada yang bisa menurut gue, karena masing-masing punya kepentingan dan andil tersendiri. baiknya adalah kita baik sebagai artis/musisi ataupun sebagai konsumen sama lebih selektif dan lebih pintar dalam menciptakan, memilih dan menilai suatu musik dan lebih menghargai para musisi yang mungkin kurang kita sukai karena bagaimanapun mereka juga manusia yang membutuhkan pekerjaan dan uang untuk kelangsungan hidup mereka. jadi salah siapa?

6 Tanggapan to “Salah Siapa”

  1. yaa sebenernya sih emang tidak ada yang patut dipersalahkan, dari pihak label mereka ingin mengorbitkan artis yang sekali jadi tapi memberi keuntungan yang besar terhadap pihak label itu tersendiri, dari pihak sang musisi ya siapa yang tidak senang, dengan hanya bermodalkan lirik2 cinta nan puitis dan penuh aroma kegombalan merasa musk mereka bisa dijual ke pasaran, bisa menghasilkan uang, tampil di televisi, siapa yang tidak mau, selagi laku dijual musik mereka kenapa tidak. saya ingin berkomentar dari segi selera pasar, selama ada permintaan terhadap band2 yang one hit wonder, maka selama itu pula, pihak label akan terus memberikan kontrak rekaman jangka pendek/panjang, jadi intinya selama masih ada permintaan dari pasar maka selama itu pula lantunan lagu band2 one hit wonder akan selalu berkumandang.

  2. yaah gimana yah vantje, band2 itu sebenernya punya warna musik tersendiri, lalu (bisa dibilang) warna itu dirubah sama pihak label untuk lebih menjual, klo dibilang salah atau nggak, for sure kedua belah pihak itu salah, hem salah dari pihak label nggak mau menerima warna musik band2 tersebut, terus salah dari band2 tersebut adalah mengikuti apa yang terjual di pasaran sehingga orang ngeliatnya jadi rada gimanaaaa gitu.
    well, it’s only perception my friend, yang penting industri musik Indonesia semakin maju deh hehe

    • ga bisa gitu, mereka kan ada karena mencari uang… label melihat selera pasar, dan membuat suatu band mengikuti selera pasar biar laku… nah si bandnya pun (untuk beberapa band, terutama yang tadinya dari kalangan awam) karena memang mencari uang ya mereka mau-mau aja karena bisa menghasilkan uang yang banyak….

  3. cool, ya begitulah nasib musik industri.. serba salah ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: