Java Jazz Festival 2010

yang ditunggu akhirnya dimulai juga… sedikit mengobati kekecewaan setelah JakJazz 2009 di-postponed Java Jazz 2010 hadir di tempat baru yang tentunya lebih fresh dan mungkin lebih luas meskipun lebih jauh….

okay, Java Jazz 2010 saat ini diselengarakan di JIExpo, Kemayoran… dengan rata2 stage yang lebih besar, dan jumlah yang lebih banyak membuat penonton dibuat bingung akan menonton siapa… setelah muter-muter mencoba semua hall yang tersedia, sedikit kecewa dengan beberapa hall disana yang ternyata masih tidak dapat meredam sound sehingga suarapun memantul… bahkan Outdor Stage-pun menurut gue masih kurang baik dalam penataan sound-nya… (recommended hall : C1 LG Hall dan  C2 Femina Hall,), dalam soal persiapan pun terlihat bahwa panitia masih kurang siap dalam pelaksanaannya bisa dilihat dari pertama alat pembayaran yang harusnya sudah siap belum ada  (bahkan di Dji Sam Soe Lounge voucher tidak bisa digunakan! padahal katanya Voucher bisa digunakan untuk semua dan dimana saja) sehingga pada awal itu merasa sangat sia-sia membeli voucher karena pada akhirnya masih harus mengeluarkan “cash” juga, tapi untungnya hal ini tidak berlangsung lama dan voucher sudah bisa digunakan setelah Maghrib… petunjuk pun sangat kurang, hanya terdapat 2 banner besar untuk jadwal, sementara jika ingin memiliki jadwal sendiri pun diharuskan untuk membeli dulu seharga Rp 20.000… sangat tidak efektif dan membuat penonton bingung…. ketidaksiapan panitia akan banyaknya penonton pun terjadi di hari ke2 dimana selain susah mendapatkan tempat parkir, akses jalan keluar pun sulit, sehingga menyebabkan kemacetan panjang, yang sangat membuang waktu (dari tempat parkir menuju kembali ke  jalan Benyamin Sueb butuh waktu 1jam).but, overall Java Jazz 2010 sukses!

DAY 1, FRIDAY, 5 MARCH 2010

ngomongin performance, pertama itu nonton “Esqief : Syaharani and the Queen Fireworks” mereka ternyata membawakan beberapa lagu baru, secara keseluruhan, performance Syaharani itu seperti biasa, interaksi penonton yang baik dan bersemangat yang tentunya bisa membuat penonton pun terhibur dan ikut bergoyang…

kedua itu nonton Earth (KJK) sebetulnya kalo ini sih bandnya temen saya si Hendra (Drum) jadi karena udah janji makanya saya tonton.. hehehe.. tapi secara performance itu asik, Tania pada vocal berhasil menyihir penonton dengan power yang dimilikinya, sementara Ricky (Bass) dan Hendra (Drum) dengan alunan beat yang mereka buat berhasil membuat penonton bergoyang, tapi yang menyedot perhatian adalah sosok Ade (Keys) yang memiliki sebuah kekurangan tapi berhasil membuat penonton kagum dengan permainan Keyboard-nya membuktikan bahwa kekurangan itu tidak membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa justru sekarang dia merupakan salah seorang pemain “Keys” muda yang cukup diperhitungkan di Scene Jazz tanah air…

setelah itu ada Tjut Nyak Deviana seorang Pianis Indonesia dan juga pemilik dari salah satu sekolah music terkemuka di kawasan Jakarta Selatan yang banyak mengenyam pendidikan musik di Jerman, hanya dengan format Trio, penampilan dan interaksi yang ia lakukan sungguh menghibur, dipadu dengan ruangan dingin + tempat duduk membuat penonton merasa nyaman saat menyaksikan penampilannya…

setelah itu yang ditunggu-tunggu main juga.. JAVA JAZZ!!! salah satu band lokal yang paling menyedot perhatian pengunjung yang hadir, dibuktikan dengan penuhnya stage C1 LG Hall… band yang sudah terbentuk sejak tahun 90-an ini digawangi oleh Indra Lesmana (Keys, Synth), Dewa Budjana (Acoustic/Electric Guitar, Banjo), Donny Suhendra (Electric Guitar), AS Matez (Bass), Gilang Ramadhan (Drum, Percussion) and the soul of Alm. Embong Rahardjo mebuat semua orang sulit untuk keluar dari stage karena alunan musik yang mereka mainkan…. “Drama”, “I Wish”, “The Seeker”, “Bulan Di Atas Asia” adalah beberapa komposisi lama yang dimainkan dan dipadu dengan lagu baru dari album terbaru mereka “Joy Joy Joy” seperti “Exit Permit” “Border Line” dan “Java’s Weather” + Solo Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan benar-benar sukses menyihir penonton…

setelah itu berturut menyaksikan performance yang lain yang tidak kalah seru dibandingkan yang lain, tapi terakhir menonton Roy Hargrove yang membawakan Jazz Standard sangatlah menghibur dan berhasil membuat penonton melakukan standing ovation (termasuk saya) terhadap penampilannya, apalagi ketika ia membawakan tune yang berirama latin, dia ber-joget diatas panggung! sebuah performance yang sungguh patut diacungi 4 jempol sekaligus, memukau!…

DAY 2, SATURDAY, 6 MARCH 2010

okay,langsung aja… di hari ke dua, semua schedule mulai lebih awal yaitu pukul 17.00 sehingga kemacetan pun sudah mulai terjadi di depan JIExpo, Kemayoran sejak sore..

okay ke acara sekarang…

penampilan pertama yang dilihat itu adalah seorang penyanyi Jazz muda asal Russia, Alexandra Sherling, membawakan Jazz standard, seperti “Fly Me To The Moon” dan “L.O.V.E”  Alexandra sukses mengajak para penonton untuk ikut bernyanyi bersama, walaupun interaksi dengan penonton tidak banyak, tapi dengan performance yang cukup menghibur, Alexandra bisa membuat penonton tidak beranjak meninggalkan performancenya..

beranjak ke performer lainnya, ada Benny Likumahuwa Jazz Connection, salah satu sesepuh Jazz Indonesia ini membawakan beberapa tune Jazz standard bersama sang anak Barry Likumahuwa (Bass) dan Taufan Goenarso (Drums) dan beberapa musisi yang lain.. stage Lawu, tempat dimana mereka bermain pun penuh sesak dengan kehadiran penonton yang antusias menyaksikan penampilan mereka.

Lanjut ke C2 Femina Hall disitu Maurice Brown Effect sedang menghibur para penonton, sedikit ketinggalan karena penapilan mereka sudah akan selesai, jadi hanya kebagian 2lagu saja, walaupun begitu penampilan mereka juga sangatlah menghibur….

Pindah ke C1 LG Hall… disitu Christian Mcbride and Inside Straight sedang dan dengan sukses berhasil menghibur penonton, cukup beruntung juga karena ketika datang, mereka sedang bergantian melakukan solo, jadi cukup menarik juga dan memang tidak salah mereka diundang ke Java Jazz 2010, perpaduan dari Skill dan  Feel yang sangat mumpuni berhasil menciptakan alunan music yang indah dan sangat nikmat rasanya untuk dinikmati.

Ketika sedang muter-muter, tiba-tiba dikagetkan dengan suara “Single Stroke” yang cukup cepat dari performer di D1 Tebs Hall… setelah masuk dan berada ditengah, barulah saya sadar ternyata memang yang main itu merupakan salah satu drummer dengan single stroke yang cukup cepat, Ronald Bruner Jr, dia adalah salah satu murid dari Will Kennedy (Ex- Yellow Jacket) dipadu dengan salah satu Bass Player paling disegani di dunia Jazz Melvin Lee Davis, mereka berdua (dibantu dengan musisi lain dan tergabung dalam grup Novello B3 Soul) benar-benar memukau, groove yang mengalir benar-benar berhasil bikin saya berjoget ria!

Setelah berputar-putar dan menyaksikan permainan para musisi yang luar biasa, saya akhirnya memutuskan ikut berjuang mengatri untuk menunggu penampilan dari salah satu musisi (selain Java Jazz) yang bikin saya rela untuk mencari dan membeli tiket Java Jazz Festival kemana-mana… LEE RITENOUR! Memang cukup aneh karena saya itu drummer, tapi sangat menyukai pemain gitar handal yang satu ini, dari awal hingga akhir saya benar-benar berhasil dibuat terpukau oleh permainan gitar-nya, dibantu oleh beberapa musisi hebat seperti Melvin Davis (Bass) dan Oscar Petersen (Drum) music yang mengalir benar-benar memukau! Rio Funk tadinya merupakan tune terakhir yang ia mainkan,tapi ternyata para penonton belum puas dan meminta Lee untuk memainkan sebuah Encore, dan dimainkan, sempat bercanda dengan mengatakan bahwa Toni Braxton sudah mulai main, tapi kata-kata itu malah disoraki para penonton (termasuk saya) yang labih memilih untuk menyaksikan penampilan Lee Ritenour daripada menonton Toni Braxton.. karena hal itu pula Lee memberikan pujian kepada para penonton dengan mengatakan bahwa ia sebenarnya sudah sangat lelah dalam perjalanan, tapi para penonton bisa membayar semua itu dan membuatnya menjadi sesuatu yang sangat special baginya, hal tersebut pun makin membuat penonton bersemangat… dalam penampilannya Lee mengajak salah satu vokalis baru asal Denmark (nama lupa) yang albumnya diproduseri oleh Lee sendiri.

Setelah itu buru-buru ingin menyaksikan penampilan dari George Duke, tapi ketika masuk Hall, ternyata ruangan sudah sangat penuh dan tidak memungkinkan untuk menonton, hingga akhirnya hanya kekecewaan yang didapat.. akhirnya pindah ke Food Stage, ada (lagi-lagi) band temen saya, BeTiGa sedang main, memainkan beberapa tune Jazz Standard penampilan mereka cukup menghibur dan sedikit sukses mengobati kekecewaan karena gagal menonton George Duke.

DAY 3, SUNDAY, 7 MARCH  2010

The last day of JJF 2010, antusias penonton tetap ramai meskipun memang hari sabtu adalah pusatnya, tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, hari terakhir di JJF 2010 ini banyak diisi oleh performer-performer yang hebat dan beberapa cukup ramai dipadati penonton, seperti misalnya di Semeru Hall, tempat dimana salah satu legenda Jazz Indonesia Bubi Chen bermain, penonton sangat ramai, dan memenuhi ruangan Semeru hanya untuk menyaksikan salah satu living legend Jazz Indonesia yang ikut membawa nama Indonesia di ajang Jazz Internasional pada jamannya, sedikit kecewa dengan terlambatnya performance dari jadwal yang sudah ditentukan, dan pintu masuk pun ditutup dengan alas an check sound membuat para penonton harus mengantri di depan pintu masuk dan berdesak-desakan… padahal menurut saya itu tidak perlu terjadi, cukup membiarkan penonton masuk, dan membiarkan check sound tetap berjalan (seperti yang dilakukan Lee Ritenour) but, overall penampilan Bubi Chen sangat menghibur, di usia yang sudah 70-an cukup beruntung saya masih bisa menyaksikan salah satu legenda Jazz Indonesia ini secara langsung, ditemani oleh Andien, Cindy Bernadette, Eka Deli dan Joeniar Arief yang masing-masing ikut menyumbangkan lagu.

Dan cukup menyedot perhatian pada hari terakhir adalah salah satu band Blues Indonesia yang sudah sangat terkenal di Inggris, tapi baru naik daun di Indonesia Gugun and the Blues Shelter,dalam rangka promosi album baru mereka membawakan beberapa lagu baru yang sangat membuat para penoton tidak ragu untuk ikut bergoyang dalam alunan music Blues yang mereka bawakan….

Well, hanya itu yang bias saya review dari penyelengaran JJF 2010 kali ini, cukup menghibur sekaligus melelahkan, harapan saya untuk penyelengara ialah, sedikit merubah beberepa hall, agar bias menjadi Accoustic Hall yang baik… semoga di tahun berikutnya JJF 2011, semua menjadi lebih baik dari tahun ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: